letak geografis & kondisi

1. Letak dan luas
Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) memiliki luas 1.271.696,56 hektar (berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK.4787/Menhut-VII/KUH/2014) yang terletak di 2 (dua) kabupaten, yakni Kabupaten Malinau dan Nunukan. Secara administrasi kecamatan, kawasan TNKM yang berada di Kabupaten Malinau meliputi wilayah Kecamatan Kayan Hilir, Kecamatan Pujungan, Kecamatan Bahau Hulu, Kecamatan Sungai Tubu, dan Kecamatan Mentarang Hulu. Sedangkan secara administrasi kecamatan, kawasan TNKM yang berada di Kabupaten Nunukan
meliputi Kecamatan Krayan Selatan, Kecamatan Krayan dan Kecamatan Lumbis Ogong. Kawasan TNKM mencakup 11 (sebelas) wilayah adat besar, yaitu Lumbis Hulu, Krayan Hulu, Krayan Tengah, Krayan Hilir, Krayan Darat, Mentarang Hulu, Tubu, Hulu Bahau, Pujungan, Kayan Hilir dan Kayan Hulu.

Secara geografis, TNKM berada pada 40 07’ 38,94” s/d 20 08’ 48,12’’ Lintang Utara dan 1150 54’ 06,27” s/d 1140 48’ 38,90’’ Bujur Timur . Taman Nasional ini berbentuk panjang menyempit dan mengikuti batas internasional dengan negara bagian Malaysia (Sabah dan Serawak). TNKM merupakan kawasan konservasi terbesar di
Pulau Kalimantan dan termasuk salah satu yang terbesar di wilayah Asia Pasifik.

 

2. Topografi

TNKM terletak di punggung pegunungan yang membentang dari Timur Laut ke Barat Laut di sepanjang perbatasan Indonesia – Malaysia hingga wilayah Kalimantan Tengah. Bagian rangkaian pegunungan tempat Taman Nasional berada biasanya disebut pegunungan Belayan–Kaba. Elevasi daerah-daerah di wilayah Taman Nasional bervariasi mulai dari 300 meter hingga lebih dari 2000 meter di atas permukaan laut. Lembah Kayan yang relatif rendah dan berbukit-bukit merupakan pengecualian dari topografi lain di wilayah Taman Nasional yang umumnya agak curam. Sekitar 50% dari wilayah Taman Nasional memiliki elevasi lebih dari 1000 meter. Gunung Siho (Gunung Menjoh) dengan ketinggian lebih dari 2000 meter terletak di tengah TNKM. Gunung Makita, saat ini tercatat dengan ketinggian 2.987 mdpl merupakan gunung tertinggi kedua di Borneo, berada di sebelah selatan tidak jauh dari batas luar Taman Nasional. Kemiringan lereng di kawasan Taman Nasional umumnya lebih dari 40%. Sekitar 75% dari wilayah pegunungan Belayan–Kaba terdiri dari batuan kapur atau bahan endapan lain dan terkadang bercampur dengan batuan metamorfik. Substrat atau bahan sisanya berasal dari batuan vulkanik, terutama basalt, tuff dan dolorit. Bukit batu kapur yang muncul ke permukaan bumi hanya terdapat dibeberapa tempat dalam kawasan, terutama di sepanjang Sungai Pujungan.

Gunung makita, gunung tertinggi ke-2 di Kalimantan

Secara geomorfologi ada dua bagian kawasan Taman Nasional yang menarik. Di wilayah Kecamatan Long Pujungan terdapat formasi endapan yang tertutup dengan lapisan batuan vulkanik dasar. Aliran sungai telah memotong batuan vulkanik tersebut dan kini sedang mengikis formasi endapan sehingga menghasilkan tebingtebing

yang tinggi pada dataran tinggi vulkanik di atas lembah-lembah, seperti yang terdapat di dataran tinggi Apo Kayan yang mendominasi bagian selatan kawasan Taman Nasional. Di sebelah utara wilayah Kecamatan Krayan, merupakan dataran tinggi yang memiliki strata endapan yang sama seperti Long Pujungan, tetapi tidak tertutup oleh lapisan batuan vulkanik. Di masa lalu wilayah Krayan merupakan sebuah danau besar yang mengalami pengeringan secara perlahan-lahan dan meninggalkan tanah aluvial yang subur (Sellato. 1997 dalam RPTNKM 2001-2025 Buku II).

 

3. Hidrologi
Taman Nasional ini merupakan catchment area dari 3 sungai besar di Kalimantan Utara, yakni Sungai Kayan, Sungai Sesayap dan Sungai Sembakung. Sumber air sungai Kayan berasal dari sungai Bahau Hulu dan Sungai Iwan yang letaknya berdekatan dengan batas Taman Nasional bagian selatan. Pegunungan yang berada di bagian tengah dan utara kawasan merupakan sumber air untuk Sungai Mentarang dan Sungai Tubu dimana keduanya merupakan anak sungai dari Sungai Sesayap. Anak sungai utama dari Sungai Sembakung mengalir dari bagian utara kawasan Taman Nasional. Di kawasan TNKM tidak terdapat stasiun pengukuran aliran sungai, tetapi aliran permukaan secara musiman dapat diukur melalui alat ukur yang terdapat di bagian hilir. Volume aliran dan tinggi air sungai naik dan turun dengan cepat tergantung dari tingkat kekeringan dan curah hujan yang terjadi pada bagian hulu sungai di kawasan.

 

sungai bahau di Taman Nasional Kayan Mentarang

Semua sungai memiliki jiram-jiram utama di mana beberapa diantaranya tidak dapat dilalui oleh perahu tempel selama periode air tinggi, sementara pada saat air rendah juga dapat mengganggu perjalanan melalui sungai. Banjir bandang di sungai-sungai sangat umum terjadi. Potensi air tanah di dalam kawasan ini hampir tidak ada sehingga semua keperluan air untuk penduduk diambil dari sungai.

 

4. Tanah
Berdasarkan tipe batuannya, jenis tanah di daerah dataran berbukit non aluvial dan pegunungan di bawah ketinggian 1000-1500 mdpl dapat dibagi menjadi 2 (dua) kelompok besar. Batu endapan merupakan bahan induk yang paling umum dimana jenis tanah semacam ini mencakup 75% dari seluruh kawasan Taman Nasional dan

bersifat miskin hara. Dibawah kondisi temperatur tinggi dan curah hujan yang umum di Taman Nasional, jenis tanah yang paling umum adalah Ultisol kemerahan dan kekuningan, berlempung dan tidak subur. Pada lereng-lereng yang terjal umumnya adalah Dystropert coklat berlempung. Tanah yang terbentuk pada batuan vulkanik memiliki tekstur halus dan struktur yang baik tetapi memiliki kemampuan yang lemah dalam mengikat zat hara. Jenis-jenis tanah ini diklasifikasikan sebagai Tropeduls dan mencakup sekitar 25% dari kawasan terutama terletak pada bagian selatan kawasan, yakni pada bagian barat Sungai Bahau.

 

5. Iklim
Berdasarkan sistem Koppen, iklim di bagian kawasan Taman Nasional yang memiliki elevasi lebih rendah  diklasifikasikan sebagai tipe A atau iklim tropis hujan tanpa musim kemarau serta suhu tinggi di sepanjang tahun walaupun tidak terdapat stasiun meteorologi pada daerah yang memiliki elevasi yang tinggi. Wilayah Taman
Nasional secara keseluruhan termasuk tipe A atau Agroklimatik paling basah di Indonesia (Oldeman et al., 1980 dalam RPTNKM 2001-2025 Buku II).

Pola curah hujan ditentukan oleh angin musim kering yang datang dari arah tenggara (bulan Mei – Oktober) dan angim musim hujan dari arah barat laut (bulan Nopember – April). Periode paling basah terjadi pada bulan Nopember – Februari dan periode paling kering terjadi pada bulan Juli – Oktober. Penyebaran curah hujan di dalam
Taman Nasional sangat kompleks. Daerah-daerah paling kering terdapat di daerah pedalaman dan lembah-lembah sepanjang hulu Sungai Kayan dengan curah hujan kurang dari 2500 mm/tahun. Sedangkan di daerah lainnya curah hujan rata-rata berkisar antara 3000-4000 mm/tahun.

Keadaan angin di wilayah TNKM biasanya relatif kecil, berhembus dari arah tenggara pada bulan Mei – Oktober serta dari arah barat laut pada bulan Nopember – April. Kawasan ini tidak terpengaruh oleh topan tropis karena lokasinya berdekatan dengan garis khatulistiwa. Pada daerah-daerah berbukit biasanya tertutup oleh awan hampir

sepanjang tahun, sehingga radiasi sinar matahari untuk fotosintesis berkurang. Dengan bertambahnya elevasi, keadaan iklim menjadi lebih dingin dan lembab. Setiap kenaikan elevasi sebesar 1000 meter akan terjadi penurunan suhu rata-rata sekitar 5 0C atau setara dengan pergeseran sejauh 100 dari khatulistiwa. Curah hujan yang lebih tinggi pada salah satu sisi gunung atau punggung bukit sering kali berpengaruh terhadap tipe dan struktur vegetasi.

 

6. Geologi
Sejarah geologi wilayah TNKM belum sepenuhnya terungkap, tetapi hal tersebut mencakup peristiwa-peristiwa berurutan yang kompleks, mulai dari pembentukan dan perusakan lengkungan pulau dan lembah sungai, benturan antar lempengan tektonik dan banyak patahan, batua

n terobosan yang disertai aktivitas vulkanik pada masa tersier (Brookfield et al., 1995 dalam RPTNKM 2001-2025 Buku II). Sejarah geologi tersebut merupakan sejarah Borneo ketika masih menjadi bagian pinggir timur daratan Sunda (Sunda Land) pada saat ada pergeseran dengan lempengan tektonik pasifik yang berdekatan.

Eksplorasi pada kawasan TNKM belum dilakukan secara lengkap dan belum dipetakan secara teliti oleh ahli geologi, tetapi tipe-tipe batuan berikut diketahui berada didalamnya, yaitu batu pasir, sedimen klastik metamorfose rendah notably quatzite, graywacke, dan jenis batu yang berasal dari gunung api, terutama basalt, tuff, dan dolorite.

Sumber air asin yang disebut “SUNGAN” oleh suku Dayak Kenyah adalah bagian terpenting dari bentuk wilayah geomorfologi. Di daerah Krayan, terdapat salah satu jenis sumber air asin yang masih digunakan untuk pembuatan garam dan merupakan bagian penting dalam perdagangan masyarakat adat setempat paling tidak sekitar
200 tahun lalu. Pada bagian lain, ada pula sumber air asin yang tidak dapat diolah menjadi garam. Kebanyakan sumber air asin merupakan tempat minum binatang seperti Babi Hutan, Rusa, Kancil, Kijang dan beberapa jenis burung atau satwa lainnya (RPTNKM 2001-2025 Buku II).