sejarah kayan mentarang

Sejarah penetapan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) dimulai pada tahun 1977. Sebuah tim gabungan melakukan survei di daerah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) pada Sungai Kayan/Bahau yang menghasilkan sebuah proposal untuk menunjuk suatu kawasan Cagar Alam (CA) seluas 800.000 hektar di hulu Sungai Kayan. Kawasan tersebut sebelumnya telah ditetapkan sebagai areal konsensi Hak Pengusahaan Hutan (HPH), namun belum pernah dilakukan penebangan. Departemen Pertanian (yang saat itu bertanggung jawab terhadap pengelolaan hutan) menolak untuk membatalkan HPH tersebut. Pada tahun 1978 dilakukan studi dari tim proyek Man and Biosfer di Kalimantan Timur yang menghasilkan temuan penting tentang kekayaan biodiversity dan keunikan sosial budaya di wilayah dataran tinggi Apo Kayan dan Krayan.

Pada tahun 1980, Departemen Pertanian menetapkan kawasan pegunungan di sebelah utara kawasan hutan yang sebelumnya diusulkan sebagai Cagar Alam, kemudian ditetapkan sebagai Cagar Alam Kayan Mentarang. Dalam Cagar Alam tersebut terdapat sedikit hutan dataran rendah. Alasan utama adanya usulan Cagar Alam di hulu Sungai
Kayan adalah untuk melestarikan kawasan hutan dataran rendah yang luas sebab hanya hutan dalam kawasan Taman Nasional Kutai satu-satunya hutan dataran rendah yang luas dilindungi di Kalimantan Timur dan merupakan salah satu dari sebagian kecil yang ada di Borneo. Cagar Alam Kayan Mentarang awalnya ditunjuk sebagai Cagar Alam seluas ± 1.360.500 hektar berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 847/Kpts/Um/II/1980 tanggal 25 Nopember 1980 mengingat tingginya keanekaragaman hayati seperti yang telah diidentifikasi dalam National Conservation Plan for Indonesia (UNDP/FAO. 1982). Pentingnya Kayan Mentarang sebagai unit kunci dalam sistem kawasan konservasi Indonesia untuk Kalimantan telah ditegaskan dalam Review of the Protected Areas System in the Indo-Malaya Realm (MacKinnon. 1986 dalam RPTNKM 2001-2025 Buku II). Sejak tahun 1980, pengelolaan Cagar Alam Kayan Mentarang telah menjadi wewenang Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur.

Pada tahun 1989, PHPA, LIPI dan WWF Indonesia Program menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk melakukan proyek kerjasama penelitian pengembangan untuk CA Kayan Mentarang, kerjasama ini bertujuan untuk mengembangkan pengelolaan yang mengintegrasikan konservasi dalam pembangunan ekonomi dan berkesinambungan bagi masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitar CA. Fase permulaan tersebut berlangsung hingga tahun 1994. Para mitra menyadari bahwa status CA merupakan hambatan karena secara hukum ada aturan yang melarang masyarakat adat untuk melanjutkan cara hidup tradisional mereka yang telah ada berabad-abad bermukim di dalam CA. WWF menyatakan bahwa hak-hak masyarakat adat patut dilindungi bahwa kegiatan tradisional masyarakat untuk mencari nafkah tidak membahayakan keragaman hayati CA dan masyarakat dapat menjadi mitra yang penting dalam menjaga CA Kayan Mentarang dari gangguan lainnya.

Pada tahun 1992, WWF mengusulkan perubahan status dari CA Kayan Mentarang menjadi Taman Nasional mengingat status Taman Nasional memungkinkan pemanfaatan sumber daya alam secara tradisional di zona yang telah ditentukan. Tahun 1993, Departemen Kehutanan membentuk sebuah tim untuk mengevaluasi rekomendasi
tersebut. Anggota ini terdiri dari wakil-wakil instansi Pemerintah Daerah, perusahaan swasta dan instansi kehutanan.

Pada tahun 1996, setelah pengkajian mendalam oleh para ahli dan guna menampung aspirasi dari masyarakat adat setempat serta Pemerintah Daerah, Kantor Wilayah Departemen Kehutanan Kalimantan Timur mengusulkan kepada Menteri Kehutanan untuk merubah status dari CA menjadi Taman Nasional. Status kawasan Kayan Mentarang dirubah dari CA menjadi Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 631/Kpts-II/1996 tanggal 7 Oktober 1996 dengan luas kawasan ± 1.360.500 hektar. Surat Keputusan tersebut merupakan yang pertama di Indonesia yang menyatakan bahwa di beberapa daerah di

sekitar kawasan Taman Nasional merupakan tempat kehidupan masyarakat tradisional etnis Dayak yang keberadaannya perlu diperhatikan. Seiring berjalannya waktu hingga tahun 2014, luas kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang menjadi 1.271.696,56 hektar (berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK.4787/Menhut-VII/KUH/2014).

Informasi di atas disusun oleh: Jefry Frihardian Gumilar, S.Si

Sumber Informasi: Buku Zonasi Taman Nasional Kayan Mentarang